Klaster Fashion Desa Wage Sidoarjo Semakin Eksis, Kini Rencanakan Bangun Gedung Workshop dan Galeri

SIDOARJO – Kehidupan manusia tidak terlepas dari sandang, pangan dan papan. Itulah yang membuat UMKM yang bergerak di bidang fashion bisa tetap bertahan dan eksis meski didera krisis ekonomi.

Salah satunya adalah UMKM fashion di Desa Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka bukan saja bertahan namun usahanya semakin berkembang.

UMKM yang bergerak di desa tidak jauh dari Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo dan berbatasan dengan Kota Surabaya ini sudah berjalan bertahun-tahun.

UMKM bidang fashion di Desa Wage tergabung dalam klaster Griya Kreatif Private yang diketuai Winda Yati. Sejak dibentuk tahun 2022 hingga saat ini terdapat 12 UMKM yang tergabung di wadah ini.

“Terbentuknya klaster fashion di Desa Wage tidak terlepas dari saran BRI yang kala itu menjadikan Desa Wage sebagai Desa BRIlian, di mana salah satu programnya adalah membentuk klister yang usahanya sejenis,” kata Winda Yati kepada sidoarjokini.com.

Menariknya, dari 12 pelaku UMKM yang tergabung di Griya Kreatif Private tersebut adalah wanita. Mereka memproduksi segala jenis fashion, mulai dari pakaian pria, wanita dan anak-anak hingga seprei. Pasarnya selain Jawa juga ke luar Jawa.

Karena potensi inilah yang membuat BRI, dengan program Desa BRIlian-nya melirik Desa Wage sebagai desa binaannya, tahun 2022. Kalau itu melalui BUMDes, tapi kemudian dikelola oleh klaster Griya Kreatif Private.

Dikatakan oleh Winda, sejauh ini pakaian yang paling banyak diproduksi adalah pakaian wanita, khususnya busana muslim. Setelahnya pakain untuk anak-anak.

Harga berkisar antara Rp100.000 sampai Rp150.000 per helai.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, seperti Lebaran tahun-tahun sebelumnya, pesanan membludak.

Anggota klaster juga banyak mendapat oder baju seragam, baik seragam sekolah maupun perusahaan.

Klaster ini menerima bantuan dari program Desa BRIlian alat kerja berupa mesin jahit, mesin obras, alat untuk lobang kancing dan rak display untuk kegiatan pameran. Klaster juga mendapat binaan managemen dan vokasional serta pemasaran melalui platform marketplace milik BRI, Loca Loka.

Selain itu, anggota klaster juga menerima kemudahan pinjaman untuk kredit usaha.

“Sejak adanya bantuan alat kerja tersebut anggota sudah tidak lagi kesulitan, khususnya bagi anggota yang memproduksi seprai sebab membutuhkan alat besar,” kata Winda Yati.

Selain dari BRI, Griya Kreatif Private juga sudah lama mendapat pendampingan kewirausahaan dari Universitas Ciputra Surabaya.

Sebagai keberlanjutan program Desa BRIlian, pada 18 Januari 2023, klaster fashion Griya Kreatif Private mendapat kunjungan dari tim riset BRIlian. Kunjungan yang salah satu kegiatannya focus group discussion (FGD) ini berlangsung 8 sampai 28 Januari di seluruh klaster usaha binaan BRIlian di Indonesia. Di Jawa Timur, klaster yang dikunjungi terdapat di Kabupaten Sidoarjo (24 klaster), Kabupaten Malang dan Kabupaten Mojokoerto.

Pada kesempatan yang sama klaster Griya Kreatif Private mendapat suntikan ilmu dari pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur, yaitu Redatini dan Farah Tamalia. Dalam pertemuan itu HIPMI Jatim berjanji akan membantu pemsaran produk fashion anggota Griya Kreatif Private.

Rencana ke depan Griya Kreatif Private adalah membangun workshop dan galeri di Desa Wage, tepatnya di Jalan Taruna. Workshop ini bukan saja menjadi galeri anggota kami namun juga menerima jasa di bidang fashion.

“Lahan seluas 200 m2 sudah ada, tinggal mencari dana untuk mendirikan bangunan. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp 150 sampai Rp 200 juta,” kata Winda alumni Universitas Airlangga Surabaya yang kini menempuh S2 jurusan kewirausahaan Universitas Ciputra Surabaya ini.(bud)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments